Coach of Sport

  • Arifin Menerima pelatihan renang Sepak bola, Squash,Futsall dan olahraga lainnya :) Email : Arifin_chelsea75@yahoo.com saya adalah Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta dari Fakultas Ilmu Olahraga Hp : 087882244277 jika anda berminat silahkan hubungi saya :) Saya juga menerima konsultasi untuk memberi semangat :) alamat facebook : Chelsea arifin

Senin, 16 April 2012

Ikhlas

Ikhlas

    Ikhlas. Inilah kata yang mudah sekali diucapkan -saya rela kok, saya ikhlas kok- tetapi sangat susah diaplikasikan dalam perbuatan sehari-hari. Karena ikhlas adalah amalan hati. Karena ikhlas tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Kita hanya dapat melihat dari tanda-tandanya. Itupun tidak pasti. Inilah (mungkin) sebagian makna dari keikhlasan:

    Ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata tidak mendapat pujian dari orang lain, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata tidak diekspos oleh media massa/elektronik, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata mendapat tanggapan yang negatif oleh orang lain, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata tidak dicatat oleh sejarah, disitulah makna keikhlasan; ketika kebaikan yang kita lakukan ternyata merugikan diri kita sendiri secara lahiriah, disitulah makna keikhlasan; dan seterusnya.

     Ada ataupun tidak ada orang lain kita tetap melakukan kebaikan; dicatat ataupun tidak dicatat oleh sejarah kita tetap melakukan kebaikan; diekspos ataupun tidak oleh media massa/elektronik kita tetap melakukan kebaikan; Ada ataupun tidak ada orang lain kita tetap melakukan kebaikan; mendapat pujian ataupun tidak kita tetap melakukan kebaikan; mendapat tanggapan positif ataupun negatif kita tetap melakukan kebaikan; dan seterusnya.
Sehingga dalam Al Qur’an Surat 38:83 disebutkan salah satu kejujuran dari iblis/syetan bahwa dia tidak dapat menggoda orang-orang yang ikhlas.
Wallahu A’lam bis Showab
***
Dari Sahabat


Jaga senyum,semangat dan hatimu selalu :)

By : Chelsea Arifin

Sabtu, 14 April 2012

Istri Solehah

Istri Solehah

    Satu hari saya bertemu dengan seorang sahabat saya yang bernama Wardah. Dalam pertemuan itu, dia bertanya kepada saya, “Ain, apa tandanya isteri solehah”? Saya menjawab, “Wardah, kau tentunya lebih arif daripadaku untuk menjawabnya…”?
   
    Sebenarnya saya tahu tujuan pertanyaan Wardah bukanlah untuk menanti jawaban saya, sebaliknya untuk saling memperingatkan diri agar berhati-hati dan teliti dalam menyempurnakan tanggungjawab yang berat ini.
Saya ingin menyingkap kembali sejarah Nabi Ibrahim sewaktu baginda menziarahi menantunya. Pada waktu itu, puteranya, Nabi Ismail tidak di rumah sedangkan isterinya belum pernah bertemu bapak mertuanya, yaitu Nabi Ibrahim.

    Setelah sampai di rumah anaknya itu,terjadilah dialog antara Nabi Ibrahim dan menantunya.
Nabi Ibrahim : Siapakah kamu?
Menantu : Aku isteri Ismail.
Nabi Ibrahim : Di manakah suamimu, Ismail?
Menantu : Dia pergi berburu.
Nabi Ibrahim : Bagaimanakah keadaan hidupmu sekeluarga?
Menantu : Oh, kami semua dalam kesempitan dan (mengeluh) tidak pernah senang dan santai.
Nabi Ibrahim : Baiklah! Jika suamimu pulang, sampaikan salamku padanya. Katakan padanya, tukar tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan supaya menceraikan istrinya).
Menantu : Ya, baiklah.
Setelah Nabi Ismail pulang dari berburu,isterinya terus menceritakan tentang orang tua yang telah singgah di rumah mereka.
Nabi Ismail : Apakah ada yang ditanya oleh orang tua itu?
Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail : Apa jawabanmu?
Isteri : Aku ceritakan kita ini orang yang susah. Hidup kita ini selalu dalam kesempitan, tidak pernah senang.
Nabi Ismail : Adakah dia berpesan apa-apa?
Isteri : Ya ada. Dia berpesan supaya aku menyampaikan salam kepadamu serta meminta kamu menukar tiang pintu rumahmu.
Nabi Ismail : Sebenarnya dia itu ayahku. Dia menyuruh kita berpisah. Sekarang kembalilah kau kepada keluargamu.
Ismail pun menceraikan isterinya yang suka menggerutu, tidak bertimbang rasa serta tidak bersyukur kepada takdir Allah SWT. Sanggup pula menceritakan rahasia rumah tangga kepada orang luar.

Tidak lama sesudah itu, Nabi Ismail kawin lagi. Setelah sekian lama, Nabi Ibrahim datang lagi ke Makkah dengan tujuan menziarahi anak dan menantunya. Terjadi lagi pertemuan antara mertua dan menantu yang saling tidak mengenali.
Nabi Ibrahim : Dimana suamimu?
Menantu : Dia tidak dirumah. Dia sedang berburu.
Nabi Ibrahim : Bagaimana keadaan hidupmu sekeluarga? Mudah-mudahan dalam kesenangan?
Menantu : Syukurlah kepada Tuhan, kami semua dalam keadaan sejahtera,tiada kekurangan.
Nabi Ibrahim : Baguslah kalau begitu.
Menantu : Silakan duduk sebentar.Boleh saya hidangkan sedikit makanan.
Nabi Ibrahim : Apa pula yang ingin kamu hidangkan?
Menantu : Ada sedikit daging, tunggulah saya sediakan minuman dahulu.
Nabi Ibrahim : (Berdoa) Ya Allah! Ya Tuhanku!Berkatilah mereka dalam makan minum mereka. (Berdasarkan peristiwa ini,Rasulullah beranggapan keadaan mewah negeri Makkah adalah berkat doa Nabi Ibrahim).

Nabi Ibrahim : Baiklah, nanti apabila suamimu pulang,sampai- kan salamku kepadanya. Suruhlah dia menetapkan tiang pintu rumahnya (sebagai kiasan untuk melanggengkan isteri Nabi Ismail).
Setelah Nabi Ismail pulang dari berburu, seperti biasa dia bertanya sekiranya siapa yang datang mencarinya.
Nabi Ismail : Ada sesiapa yg datang sewaktu aku tidak di rumah?
Isteri : Ya, ada. Seorang tua yang baik rupanya dan perwatakannya sepertimu.
Nabi Ismail : Apa katanya?
Isteri : Dia bertanya tentang keadaan hidup kita.
Nabi Ismail : Apa jawabanmu?
Isteri : Aku nyatakan kepadanya hidup kita dalam keadaan baik,tidak kekurangan apapun , Aku ajak juga dia makan dan minum.
Nabi Ismail : Adakah dia berpesan apa-apa?
Isteri : Ada, dia berkirim salam buatmu dan menyuruh kamu melanggengkan tiang pintu rumahmu.
Nabi Ismail : Oh, begitu. Sebenarnya dialah ayahku.Tiang pintu yang dimaksudkannya itu ialah dirimu yang dimintanya untuk aku langgengkan.
Isteri : Alhamdulillah, syukur.
Bagaimana pandangan pembaca tentang petikan sejarah ini? Saya rasa sejarah ini sungguh menyentuh jiwa. Anda juga tentu merasa dan mengalami sendiri ujian hidup berumahtangga yang senantiasa memerlukan kesabaran.

Berpandukan sejarah tersebut, saya tegaskan kepada diri sendiri bahwa isteri solehah itu sepatutnya sabar di hati dan syukur pada wajah?. Dari sini akan terpancar ketenangan setiap kali suami berhadapan dengan isteri salehah. Isteri salehah tidak cerewet dan tidak mudah menggerutu. Isteri salehah hendaklah senantiasa bersyukur dalam keadaan senang maupun susah supaya Allah tambahkan lagi rahmat-Nya seperti firman-Nya yang artinya:  

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku tambahkan nikmat-Ku kepadamu. Dan jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku amat pedih.” (Surah Ibrahim, ayat 7)

Untuk menambahkan kegigihan kita berusaha menjadi isteri salehah, ingatlah hadis Rasulullah yang artinya: 

“Sampaikanlah kepada sesiapa yang engkau temui dari kaum wanita,bahwasanya taat kepada suami serta mengakui haknya adalah menyamai pahala orang yang berjihad pada jalan Allah, tetapi sangat sedikit sekali golongan kamu yang dapat melakukan demikian.” (Riwayat Al-Bazzar dan Ath-Thabrani)

Begitulah, untuk menyiapkan diri sebagai isteri salehah, hati kita hendaklah senantiasa dipenuhi dengan kasih sayang rabbani. Contoh teladan yang sepatutnya jadi rujukan kita ialah sejarah kehidupan nabi serta orang saleh.
***
Dari Sahabat

 Jaga senyum,semangat dan hatimu :)

By : Chelsea arifin

Jumat, 13 April 2012

Apa sih syukur itu?

Apa sih syukur itu?

   Sebagaimana sabar, agak susah mendefinisikan syukur ini. Agar gampang, justru kita definisikan lawan kata dari syukur yaitu kufur. Kufur dari kata Kafara yang artinya tertutup atau menutup. Jadi kufur nikmat berarti menutup diri dari nikmat atau gampangannya tidak mengakui nikmat Allah.

   Contoh sederhananya gini. Seorang anak pengusaha dapat warisan 100 Juta. Dengan enteng dia bilang sama temannya, “Yah, jaman sekarang 100 juta bisa buat apa?”. Anda lihat? 100 juta ditangan bingung dia bisa buat apa. Lha belikan es cendol udah bisa buat renang tuh.

    Nah, syukur adalah kebalikan dari kufur. Jadi kalau kufur menutup diri dari nikmat, maka syukur adalah membuka diri untuk segala nikmat sekecil apapun nikmat itu. Perhatikan, sekecil apapun nikmat itu. Bahkan saat seolah-olah tidak ada nikmat lagi yang kita miliki. Maka, syukur terbesar itu bukanlah saat kita terlihat memperoleh rejeki, tapi justru saat kita seolah-olah mendapatkan musibah.

     Dalam musibah seberat apapun, selalu ada alasan untuk mengucapkan Alhamdulillah. Lihatlah saudara-saudara kita yang di Padang beberapa waktu lalu. Walaupun rumahnya rata dengan tanah, tapi mereka masih bisa bersyukur karena semua saudaranya selamat. Bahkan yang rumah dan saudaranya tiadapun masih bisa bersyukur bahwa dirinya masih selamat.

    Seringkali kita ini tak mampu mensyukuri nikmat yang sudah Allah berikan pada kita. Atau mungkin karena kita sudah sering mendapat nikmat itu sehingga tak terasa sebagai kenikmatan lagi. Saat pendapatan menurun, hutang menumpuk, kita jadi enggan bersyukur. Akibatnya bukannya mendapat nikmat, kita justru akan mendapat adzab dari Allah.

“Sesungguhnya jika kalian bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepada kalian, dan jika kalian mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. Ibrahim [14]: 7)

    Anda lihat akibat dari kufur nikmat. Ketika kita ditimpa musibah, lalu kita enggan bersyukur, maka sudah sewajarnya jika datang musibah lain. Tapi akan sangat beda, saat kita ditimpa musibah, kita menyukuri nikmat lain yang diberikan Allah pada kita. Maka akibat syukur ini, Allah akan menambah nikmatnya pada kita.

    Dalam buku the Secret disebutkan, saat kita mengeluh dan memikirkan musibah-musibah yang kita alami, maka kita justru menarik musibah-musibah lain pada kita. Tapi jika tersenyum dan melihat hal-hal baik disekitar kita, mensyukurinya maka kita telah menarik hal-hal baik di sekeliling kita. Akibatnya, syukur berbuah nikmat dan kufur alias mengeluh berbuah adzab.

    Sekarang anda telah tahu bahwa syukur itu memanfaatkan potensi yang telah Allah berikan pada kita. Sekecil apapun itu seremeh apapun dia terlihat. Menjadikannya nikmat yang besar di mata kita sehingga menarik nikmat-nikmat lain bahwa yang tak pernah kita sangka-sangka sebelumnya ...



Jaga senyum,jaga semangat dan jaga selalu hatimu :)

By : Chelsea Arifin

Kamis, 12 April 2012

kemuliaan-taat-kepada-ibu"

" kemuliaan-taat-kepada-ibu"

    Suatu saat Rasulullah Saw bercerita kepada para sahabat, “Sungguh, kelak ada orang yang termasuk tabi’in terbaik yang bernama Uwais. Dia memiliki seorang ibu, dan dia sangat berbakti kepadanya. Sehingga, kalau dia mau berdoa kepada Allah, pasti Allah akan mengabulkan doanya. Dia punya sedikit bekas penyakit kusta. Oleh karena itu, perintahkan dia untuk berdoa, niscaya dia akan memintakan ampun untuk kalian.” (HR Muslim).
Bernama lengkap Uwais Al-Qarni, ia tinggal bersama ibunya di negeri Yaman. Setiap hari ia menggembalakan domba milik orang lain. Upah yang diterimanya cukup untuk biaya hidup bersama ibunya. Bila ada kelebihan dari upahnya itu terkadang ia berikan kepada tetangganya yang kekurangan.

      Ia termasuk orang yang taat beribadah, selalu menjalankan ajaran yang dibawa Rasulullah Saw. Ia punya suatu keinginan yang belum terlaksana sejak lama yaitu bertemu dengan Rasulullah Saw. Keinginan itu kian memuncak setiap kali melihat tetangganya yang baru pulang dari Madinah dan sempat bertemu Rasulullah Saw. Tetapi apa daya, ibunya sudah tua renta dan sangat lemah. Ia begitu menyayanginya sehingga tak tega meninggalkannya sendiri.
Semakin hari kerinduan bertemu Rasulullah Saw bertumpuk. Ia sangat gelisah mengingat-ingat itu. Suatu hari kerinduannya tak tertahan lagi, ia memberanikan diri mengungkapkan perasaan itu kepada ibunya. Mendengar curahan hati anaknya, ibunya terharu, ia pun diijinkan menemui Rasulullah Saw.

     Namun kerinduan itu tak sempat terobati karena saat ia datang, Rasulullah Saw sedang tak berada di rumah. Ingin sekali ia menunggu, tetapi ia teringat pesan ibunya untuk segera pulang. Ia pun memilih taat ibunya dan segera berpamitan pada ‘Aisyah.
Ketika Rasulullah Saw kembali, beliau menanyakan tentang seseorang yang mencarinya. ‘Aisyah menjelaskan kedatangan Uwais. Kemudian Rasulullah Saw mengatakan Uwais yang taat pada ibunya itu penghuni langit. Rasulullah Saw meneruskan keterangan tentang Uwais kepada para sahabat. Seraya memandang Ali dan beliau mengatakan, “Suatu ketika jika kalian bertemu dengan Uwais mintalah doa dan istighfar darinya.” (imam)
***

Jaga senyum,jaga semangat dan jaga selalu hati anda :)


By : Chelsea arifin

Selasa, 10 April 2012

" Perjalanan HIdup"

" Perjalanan HIdup"

    Tugas-tugas ini adalah anak tangga pertama yang kau injak...
Pembuka jalan pikiranmu, perubah pola pikirmu...
Setelah anak tangga pertama pasti kau akan melangkahkan kakimu ke anak tangga kedua, yaitu ujian-ujian yang akan menguji pengetahuanmu...
Dan begitu seterusnya sampai kau siap menginjakkan kakimu ke anak tangga terakhir,,,
Yaitu kesuksesanmu...
Jika kau sudah berada di puncak, maka dengan mudah kau akan menggenggam dunia...
Tetapi,,,
Sebelum kau mencapai puncak tangga itu, dari anak tangga pertama kau harus menyiapkan bekal...
Yaitu bekal jiwa dan ragamu...

Bekal jiwamulah yang harus diperbanyak...
Supaya engkau tidak lupa dan takabur saat berada di puncak...
Ingat saat pertama kali kau berjuang menginjakkan kakimu ke anak tangga pertama,
Ingat bagaimana saat kakimu pertama kali di injakkan ke tangga kedua, dan selanjutnya...
Itulah perjuanganmu, maka pahami dan renungkan untuk dijalani bagaimana kehidupan disaat kamu masih dibawah..



Jaga senyum,jaga semangat dan jaga selalu hati anda :)

By : Chelsea Arifin

Senin, 09 April 2012

"Pencuri Hati"

sunset-3
 "Pencuri Hati"
 Ibnu Qoyyim mengumpamakan syetan dengan pencuri dan hati dengan rumah. Pencuri sebelum melakukan aksinya tentunya dia akan mempelajari seluk-beluk rumahnya, istilah anak muda sekarang ‘ngegambar dulu’. Jangan sampe pencuri lebih tahu seluk beluk dan isi rumah daripada pemiliknya, bahaya! Ada 3 jenis rumah berdasarkan security nya, yaitu:
  1. Istana; rumah raja atau presiden ini pasti keamanannya ketat atau berlapis-lapis karena kekayaan isinya melebihi dari rumah orang kaya apalagi rumah biasa. Pencuri pasti mikir seribu kali sebelum aksinya…
  2. Rumah Orang Miskin, rumah ini ngak ada keamanannya karena ngak ada isinya yang berharga, buat apa dicuri.
  3. Rumah Orang Kaya, rumah ini memang ada keamanannya tapi tidak seketat rumah istana dan isinya tidak melebihi istana tapi tetap ada yang berharga, masih ada yang dapat dibawa pulang.
Dari ketiga rumah di atas pencuri bakal memilih rumah yang ketiga karena keamanannya mudah dipelajari alias diterobos dan masih ada benda-benda yang berharga.
Rumah Istana, ilustrasi dari kondisi hati para nabi atau rasul, syuhada, shiddiqin, sholihin dan mukhlisin. Mereka susah digoda dan dirayu.
Rumah Orang Miskin, ilustrasi dari hati orang-orang kufur. Mereka ngak perlu digoda dan dirayu karena mereka sudah bagian dari kelompok syetan.
Rumah Orang Kaya, ilustrasi dari hati orang-orang yang suka beribadah tapi masih ada juga kemaksiatan yang dilakukan, kata anak muda sekarang dengan istilah ‘STMJ’, Sholat Trus Maksiat Jalan.

“Ketahuilah hanya dengan berzikir kepada Allah hati akan tenang”
 Jaga senyum,jaga semangat dan jaga selalu hati anda :)

By : Chelsea Arifin

Minggu, 08 April 2012

Mengingat Mati

    Kematian adalah permulaan kepada kehidupan baru yang kekal abadi (Akhirat). Yakin dengan sebenar-benar yakin akan alam Akhirat sangat dituntut karena merupakan penjabaran dari rukun iman yang kelima.
Sabda Rasulullah:

“Perbanyakkanlah mengingat mati, niscaya akan meremehkan berbagai kelazatan.” (An Nasai, Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

     Ketika Malaikat maut datang menemui Nabi Yaakub AS untuk mencabut nyawa, beliau bertanya,”bukankah aku minta agar dikirimkan utusan terlebih dahulu”
Malaikat maut menjawab,”demi Allah telah banyak utusanku memberi peringantan wahai nabi Allah,

   Jawab Nabi Yaakub,”aku tidak mengetahui dan mengenalinya,”
Jawab malaikat maut pula,”yaitu berupa sakit, uban, pendengaran kurang dan penglihatan kabur.”
Rasulullah bersadba,“Berziarahlah kubur karena ia dapat mengingatkan kamu kepada Akhirat. Mandikan orang mati karena mengurus jasad orang mati merupakan peringatan yang mendalam. Dan sembahyangkan jenazah karena ia dapat menyedihkan hati kamu karena orang yang bersedih dibawah naungan Allah SWT berarti bersedia dengan segala kebajikan. (Dari Abu Dzar)

Barang siapa yang banyak mengingat mati akan mengutamakan 3 perkara:
  1. Segera bertaubat, karena yakin mati akan datang dengan tiba-tiba, tanpa disangka dan tidak mengira tempat.
  2. Berhati tenang dan senantiasa mewaspadai hati dari dihinggapi dan dikotori oleh berbagai mazmumah (sifat keji). Dan sentiasa mengingati Allah SWT.
  3. Rajin beribadah dan taat, dunia ini adalah tempat beramal dan akhirat adalah tempat perhitungan
Tanda-tanda orang yang melupakan mati
  1. Menunda-nunda taubat, akhirnya mati dalam keadaan membawa dosa dan belum bertaubat. Seringkali berangan-angan karena menyangka mati masih lambat dan umur akan panjang.
  2. Tidak rela hidup sederhana akhirnya memburu kesenangan dan kemewahan dunia hingga lalai dari menginggati Allah SWT. Sering merasa kecewa dan putus asa seolah-olah dunia ini segala-galanya. Terlalu mementingkan diri sendiri dan sanggup menindas orang lain
  3. Malas beribadah, kelezatan menikmati nikmat dunia menyebabkan lenyapnya kelazatan beribadah pada Allah SWT. Hilang kemanisan ibadah, malah merasakan kosong dan tidak bermanafaat.
Allah SWT Berfirman :
Audzubillahi minasy syathonirrijim
  1. Kullu nafsindza iqotul maut (Setiap yang bernyawa akan mengalami kematian)
  2. Faidza ja’a Ajaluhum laa yasta’khiruna sa’ah wala yastaqdimun (Maka apabila datang waktu kematian tidaklah dapat diundur dan tidak pula dapat dimajukan.)
  3. Wamal hayatuddun ya illa mata’ul ghuruur (Sesungguhnya dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. Shodaqollohul adhim.          


Jaga senyum, jaga semangat dan Jaga selalu Hatimu :)

By : Chelsea Arifin